Monday, December 23, 2019

Traveler's Tale


Ini adalah novel saya yang pertama. Dan... saya bahkan tidak mengeluarkan uang untuk memilikinya! Lol. Novel ini, yang akan mengawali petualangan saya untuk mengoleksi novel dan menjadikannya perpustakaan mini pribadi. Dan, sebagai info tambahan, saya punya novel ini yang cetakan pertama loh. Hehehehe. Suatu kebanggaan aja buat pencinta buku seperti saya. 

Saya pertama kali membaca novel ini, lebih dari 10 tahun yang lalu. Dipinjam dari teman sekamar kakak saya di kosannya. Kakak saya tahu, saya suka sekali membaca, dan saya pasti bakal suka sama novel ini, makanya dia pinjamkan dan bawa pulang. Dan novel ini, BAGUS. PAKE PANGET. Maaf capslock jebol. Singkat cerita, akhirnya teman kakak saya itu menghibahkan buku ini kepada saya. Menyenangkan sekali, bukan? ☺

Sedikit cerita sisi menariknya, novel ini ditulis oleh empat orang berbeda. Masing-masing penulis menulis kisah dari sudut pandang dari satu tokoh. Jadi kita akan membaca kisah dari empat orang yang berbeda, namun di akhir buku semua kisahnya akan dirangkum menjadi satu. Lalu, di antara cerita-ceritanya yang seru, nanti dikasih selipan tips dan trik dalam travelling. Sungguh suatu informasi yang sangat berguna. Kecuali hidupmu tidak kemana-mana. Seperti saya. 😢

Saking sukanya sama novel ini, saya memang udah lama pengen liat novel ini diadaptasi menjadi film. Saya pernah bertanya sama dua dari empat penulis novel ini, yaitu Adhitya Mulya dan Ninit Yunita. Waktu itu sih, katanya, masih ada kendala karna latar belakang ceritanya ada di beberapa negara.

 Tapi ternyata dua tahun kemudian, jadi dong novelnya dibikin film, dengan judul Belok Kanan Barcelona. Yay! 
Pict source: imdb 

Sebelum menonton filmnya, perasaan saya lumayan campur aduk, seperti biasa ketika menunggu suatu film yang diadaptasi dari novel, apalagi ini novel favorit. Takut kecewa, karena tidak sedikit film-film adaptasi yang menghancurkan bayangan kita ketika membaca bukunya. Tetapi, untunglah, film ini tidak termasuk di dalam kategori yang mengecewakan tadi, walaupun tetap, tidak sesempurna bayangan saya ketika membacanya. Mungkin faktor salah satu penulisnya langsung menjadi penulis script film ini, yaitu Adhitya Mulya, sehingga feelnya masih dapet banget. Apalagi, di bagian Jusuf dan Farah, karena cerita karakter Jusuf memang ditulis oleh Adhitya Mulya. 

Sampai sekarang, ketika sudah memiliki puluhan buku, novel ini tetap menjadi salah satu novel yang paling saya sukai. Tidak terhitung, sudah berapa kali saya membacanya, lagi dan lagi, dan saya tidak pernah bosan. Sesuka itu saya sama novel ini, memang. 

6 comments: